| 1 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf a |
Tetapkan Nilai Lain untuk pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak sebesar 11/12 dari Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi laba kotor. |
Pastikan sistem akuntansi perusahaan mencatat Nilai Lain sesuai proporsi 11/12 untuk penggunaan sendiri, termasuk penyesuaian harga pokok dan laba kotor. |
Buku Besar Akuntansi & Laporan Inventaris Internal |
| 2 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf b |
Tetapkan Nilai Lain untuk pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak sebesar 11/12 dari Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi laba kotor. |
Pastikan pemberian gratis dicatat sesuai Nilai Lain 11/12, agar dasar pengenaan PPN tetap sesuai peraturan. |
Dokumen Distribusi Barang / Surat Serah Terima |
| 3 |
Pasal 4 Aman demen Pasal 2 huruf d |
Tetapkan Nilai Lain untuk penyerahan film cerita sebesar 11/12 dari perkiraan hasil rata-rata per judul film. |
Pastikan setiap penyerahan film dicatat sesuai perhitungan rata-rata per judul dengan proporsi 11/12. |
Laporan Produksi & Distribusi Film Internal |
| 4 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf f |
Tetapkan Nilai Lain untuk Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang tidak untuk diperjualbelikan dan masih tersisa saat pembubaran perusahaan sebesar 11/12 dari harga pasar wajar. |
Pastikan persediaan/aktiva yang tersisa dicatat sesuai nilai wajar 11/12 untuk tujuan pelaporan pajak. |
Laporan Persediaan Akhir & Dokumen Likuidasi |
| 5 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf h |
Tetapkan Nilai Lain untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui pedagang perantara sebesar 11/12 dari harga yang disepakati antara pedagang perantara dan pembeli. |
Pastikan sistem mencatat harga transaksi pedagang perantara dengan proporsi 11/12 sebagai dasar pengenaan pajak. |
Kontrak Pedagang Perantara & Laporan Transaksi |
| 6 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf i |
Tetapkan Nilai Lain untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui juru lelang sebesar 11/12 dari harga lelang. |
Pastikan semua transaksi lelang dicatat sesuai nilai lelang dikalikan 11/12 untuk kepatuhan pajak. |
Laporan Hasil Lelang & Dokumen Resmi Lelang |
| 7 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf n |
Tetapkan Nilai Lain untuk pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. |
Nilai Lain ditetapkan sebesar 11/12 dari harga pasar wajar. |
Formulir Pencatatan Aktiva Cuma-Cuma & Laporan PPN |
| 8 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf o angka 1 |
Tetapkan Nilai Lain untuk penyerahan jasa penyediaan tenaga kerja yang tidak memenuhi kriteria jasa bebas PPN. |
Pastikan jasa penyediaan tenaga kerja yang diberikan tidak termasuk jasa yang dibebaskan dari PPN sesuai ketentuan perpajakan. |
Kontrak Penyediaan Tenaga Kerja & Laporan PPN |
| 9 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf o angka 2 |
Tetapkan Nilai Lain untuk penyerahan jasa penyediaan tenaga kerja dengan tagihan yang dirinci dalam Faktur Pajak. |
Pastikan seluruh tagihan jasa yang diminta oleh pengusaha jasa dihitung 11/12 untuk dasar PPN, sedangkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan sejenisnya tidak termasuk. |
Faktur Pajak |
| 10 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf p angka 1 |
Tetapkan Nilai Lain untuk penyerahan jasa di bidang periklanan yang terkait penyiaran tidak bersifat iklan oleh perusahaan periklanan, production house, atau pihak lainnya. |
Nilai Lain dihitung 11/12 dari seluruh tagihan yang diminta atau seharusnya diminta, untuk penyerahan kepada pemasang pesan (pemerintah atau pemerintah + badan usaha). |
Kontrak atau Surat Perjanjian dengan Pemasang Pesan, Faktur Jasa |
| 11 |
Pasal 4 Amandemen Pasal 2 huruf p angka 2 |
Tetapkan Nilai Lain untuk penyerahan jasa di bidang periklanan dengan tagihan dirinci antara jasa periklanan dan jasa penyiaran tidak bersifat iklan. |
Nilai Lain dihitung 11/12 dari seluruh tagihan jasa periklanan, tidak termasuk tagihan jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan. |
Faktur Jasa yang dirinci, Dokumen Tagihan Internal |
| 12 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 2 ayat (1) |
Pastikan perusahaan menghitung PPN atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud berupa Film Cerita Impor. |
Semua Film Cerita Impor yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean terutang PPN. |
Dokumen impor dan Faktur Pajak |
| 13 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 2 ayat (2) |
Pastikan perusahaan memungut PPN pada saat impor media Film Cerita Impor. |
PPN terutang langsung pada saat masuknya media film ke wilayah pabean. |
Dokumen Pabean, Faktur Pajak Impor |
| 14 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 2 ayat (3) |
Pastikan dasar pengenaan PPN menggunakan Nilai Lain untuk Film Cerita Impor. |
Nilai Lain digunakan sebagai dasar penghitungan PPN. |
Dokumen internal perhitungan Nilai Lain |
| 15 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 2 ayat (4) |
Pastikan Nilai Lain yang digunakan telah memperhitungkan nilai media Film Cerita Impor. |
Nilai media film sudah termasuk dalam perhitungan Nilai Lain. |
Dokumen internal perhitungan Nilai Lain |
| 16 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 2 ayat (5) |
Pastikan Nilai Lain yang digunakan ditetapkan 11/12 dari Rp12.000.000 per copy Film Cerita Impor. |
Nilai Lain = 11/12 x Rp12.000.000 = Rp11.000.000 per copy sebagai dasar PPN. |
Dokumen internal perhitungan Nilai Lain |
| 17 |
Pasal 3 huruf a |
Sesuaikan ketentuan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain dengan perubahan yang berlaku |
Perusahaan harus mengikuti perubahan, penghapusan, atau penetapan baru terkait nilai lain sebagai dasar pengenaan pajak sesuai PMK 75/2010 dan PMK 121/2015 |
Dokumen PMK 75/2010, PMK 121/2015, faktur PPN |
| 18 |
Pasal 3 huruf b |
Terapkan ketentuan nilai lain untuk pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud berupa Film Cerita Impor dan dasar pemungutan PPh Pasal 22 atas kegiatan impor film |
Perusahaan wajib menghitung dan melaporkan nilai lain sebagai dasar PPN dan PPh sesuai PMK 102/2011 |
Dokumen PMK 102/2011, faktur, bukti setor pajak |
| 19 |
Pasal 3 huruf c |
Terapkan ketentuan penghitungan dan pemungutan PPN serta PPh atas penjualan pulsa, kartu perdana, token, dan voucher sesuai PMK terbaru |
Perusahaan wajib menghitung dan memungut PPN dan PPh atas penjualan pulsa, kartu perdana, token, dan voucher sesuai PMK 6/2021 |
PMK 6/2021, bukti faktur, laporan pajak |
| 20 |
Pasal 3 huruf d |
Sesuaikan tata cara pembayaran, pelunasan, dan pengadministrasian PPN/PPnBM atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari/ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas |
Perusahaan harus mengikuti prosedur pembayaran dan pelaporan sesuai PMK 173/2021 |
PMK 173/2021, bukti setor pajak |
| 21 |
Pasal 3 huruf e |
Terapkan ketentuan PPN atas penyerahan Liquefied Petroleum Gas (LPG) tertentu |
Perusahaan yang menjual LPG tertentu wajib memungut dan melaporkan PPN sesuai PMK 62/2022 |
PMK 62/2022, faktur penjualan LPG |
| 22 |
Pasal 3 huruf f |
Terapkan ketentuan PPN atas penyerahan hasil tembakau |
Perusahaan produsen atau distributor tembakau wajib menghitung, memungut, dan melaporkan PPN sesuai PMK 63/2022 |
PMK 63/2022, bukti faktur, laporan pajak |
| 23 |
Pasal 3 huruf g |
Terapkan ketentuan PPN atas penyerahan pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian |
Perusahaan yang menjual atau menyalurkan pupuk bersubsidi wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN sesuai PMK 66/2022 |
PMK 66/2022, faktur penjualan pupuk, laporan pajak |
| 24 |
Pasal 3 huruf h |
Terapkan ketentuan perpajakan dalam kerja sama operasi |
Perusahaan yang melakukan Kerja Sama Operasi (KSO) wajib mengikuti ketentuan perpajakan sesuai PMK 79/2024 |
PMK 79/2024, kontrak KSO, laporan pajak |
| 25 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 3 ayat (1) |
Pastikan PPN terutang atas penyerahan Film Cerita Impor oleh Importir kepada Pengusaha Bioskop. |
Semua penyerahan film impor ke bioskop harus dikenai PPN sesuai tarif berlaku. |
Dokumen penyerahan Film Cerita Impor, Faktur Pajak |
| 26 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 3 ayat (2) |
Pastikan dasar pengenaan PPN atas penyerahan Film Cerita Impor menggunakan Nilai Lain. |
Nilai Lain digunakan sebagai dasar perhitungan PPN dari transaksi penyerahan film. |
Dokumen internal perhitungan Nilai Lain, Faktur Pajak |
| 27 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 3 ayat (3) |
Gunakan Nilai Lain sebesar 11/12 dari Rp12.000.000,00 per copy Film Cerita Impor sebagai dasar penghitungan PPN. |
Nilai Lain dipakai sebagai dasar pengenaan Pajak Pertambahan Nilai untuk setiap copy film. |
Dokumen internal perhitungan Nilai Lain, Faktur Pajak |
| 28 |
Pasal 5 Amandemen Pasal 3 ayat (4) |
Pastikan PPN dipungut hanya sekali untuk setiap copy Film Cerita Impor pada penyerahan pertama ke Pengusaha Bioskop. |
Pemungutan PPN dilakukan satu kali saja per copy film, saat pertama penyerahan ke bioskop. |
Dokumen internal pemungutan PPN, Faktur Pajak |
| 29 |
Pasal 4 |
Sesuaikan seluruh praktik perusahaan terkait Pasal 2 PMK 75/2010 dengan ketentuan Pasal 4 PMK ini: ubah huruf a, b, d, f, h, dan i; hapus huruf e dan g; tambahkan huruf n, o, dan p. |
Pastikan seluruh praktik penghitungan nilai lain sebagai dasar pengenaan pajak diperbarui sesuai ketentuan terbaru, termasuk dokumen dan sistem internal perusahaan. |
PMK 75/PMK.03/2010 jo. PMK 121/PMK.03/2015; dokumen internal perusahaan |
| 30 |
Pasal 9 Amandemen Pasal 4 ayat (1) |
Hitung Nilai Lain untuk Hasil Tembakau menggunakan formula (11/12) × 100 × Harga Jual Eceran / (100 + (11/12) × t) |
Formula digunakan untuk menentukan Nilai Lain sebagai dasar penghitungan PPN atas Hasil Tembakau |
Dokumen internal perusahaan terkait penjualan tembakau |
| 31 |
Pasal 9 Amandemen Pasal 4 ayat (1) |
Hitung Nilai Lain untuk Hasil Tembakau menggunakan formula (11/12) × 100 × Harga Jual Eceran / (100 + (11/12) × t) |
Formula digunakan untuk menentukan Nilai Lain sebagai dasar penghitungan PPN atas Hasil Tembakau |
Dokumen internal perusahaan terkait penjualan tembakau |
| 32 |
Pasal 9 Amandemen Pasal 4 ayat (1a) |
Tetapkan t sebagai angka pada tarif Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) |
t digunakan dalam formula untuk menghitung Nilai Lain sesuai tarif PPN yang berlaku |
Dokumen internal perusahaan terkait tarif PPN |
| 33 |
Pasal 9 Amandemen Pasal 4 ayat (2) huruf b |
Hitung PPN atas Hasil Tembakau sebesar 9,9% dari Harga Jual Eceran |
Dasar perhitungan PPN menggunakan Nilai Lain dan tarif PPN sesuai ketentuan |
Dokumen internal perusahaan terkait penjualan tembakau |
| 34 |
Pasal 9 Amandemen Pasal 4 ayat (3) |
Gunakan contoh penghitungan PPN atas Hasil Tembakau dari Lampiran peraturan |
Lampiran menjadi acuan praktis untuk penghitungan PPN atas Hasil Tembakau |
Lampiran peraturan & dokumen internal perusahaan |
| 35 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (1) |
Hitung PPN atas penyerahan Pupuk Bersubsidi dengan mengalikan tarif PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak |
Perusahaan wajib menghitung PPN setiap penyerahan pupuk bersubsidi menggunakan tarif yang berlaku dan Dasar Pengenaan Pajak yang sesuai |
Dokumen internal perhitungan PPN pupuk, SOP pemungutan PPN |
| 36 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (2) |
Gunakan Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak untuk menghitung PPN atas penyerahan Pupuk Bersubsidi |
Nilai Lain harus ditetapkan sesuai ketentuan terbaru agar perhitungan PPN akurat |
Dokumen internal Nilai Lain, laporan perhitungan PPN |
| 37 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (3) |
Hitung Nilai Lain atas bagian harga Pupuk Bersubsidi yang mendapat subsidi menggunakan formula (11/12) x jumlah pembayaran subsidi termasuk PPN / (100 + (11/12) x t) |
Perusahaan wajib menghitung Nilai Lain untuk bagian harga pupuk yang disubsidi agar perhitungan PPN sesuai ketentuan |
Dokumen perhitungan Nilai Lain, laporan PPN |
| 38 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (3a) |
Bulatkan Nilai Lain sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menjadi 0,825 dari jumlah pembayaran subsidi termasuk PPN |
Perusahaan harus melakukan pembulatan Nilai Lain agar konsisten dengan formula resmi PMK |
Dokumen perhitungan Nilai Lain setelah pembulatan |
| 39 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (4) |
Hitung Nilai Lain atas bagian harga Pupuk Bersubsidi yang tidak mendapatkan subsidi |
Perusahaan wajib menghitung Nilai Lain untuk Pupuk Bersubsidi non-subsidi dengan formula: (11/12) × 100 / (100 + (11/12 × t)) × harga eceran tertinggi |
Perhitungan internal dan laporan pajak PPN |
| 40 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (4a) |
Terapkan pembulatan Nilai Lain menjadi 0,825 dari harga eceran tertinggi |
Setelah menghitung Nilai Lain, perusahaan wajib membulatkan hasilnya menjadi 0,825 × harga eceran tertinggi untuk mempermudah pelaporan dan konsistensi |
Perhitungan internal, Lampiran PMK |
| 41 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (5) |
Gunakan harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah |
Perusahaan wajib menggunakan harga Pupuk Bersubsidi yang diatur oleh Menteri Pertanian sebagai dasar penghitungan Nilai Lain |
Dokumen penetapan harga eceran tertinggi oleh Kementan |
| 42 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (5a) |
Gunakan tarif PPN yang berlaku |
Angka t pada formula Nilai Lain berasal dari tarif Pajak Pertambahan Nilai yang berlaku |
Peraturan Menteri Keuangan / UU PPN |
| 43 |
Pasal 10 Amandemen Pasal 4 ayat (6) |
Jual pupuk bersubsidi kepada petani atau kelompok tani sesuai ketentuan |
Perusahaan wajib memastikan harga eceran tertinggi Pupuk Bersubsidi hanya dibeli petani/kelompok tani secara tunai di penyalur lini IV sesuai ketentuan perdagangan |
SOP distribusi, bukti penjualan, peraturan perdagangan |
| 44 |
Pasal 5 |
Pastikan perusahaan menghitung PPN atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud berupa Film Cerita Impor menggunakan Nilai Lain, ditetapkan sebesar 11/12 dari Rp12.000.000 per copy, dan memungut PPN pada saat impor media Film Cerita Impor, sesuai ketentuan terbaru. |
Perusahaan wajib mematuhi ketentuan Nilai Lain sebagai dasar pengenaan PPN untuk Film Cerita Impor; Nilai Lain mencakup nilai media film; PPN dipungut saat impor. Mengacu pada perubahan ayat (3) dan (5) Pasal 2 PMK 102/2011. |
Faktur Pajak Impor, Dokumen Pabean, PMK 102/2011 (BNRI 2011 No. 405) |
| 45 |
Pasal 8 Amandemen Pasal 5 ayat (1) |
Hitung Nilai Lain menggunakan formula: (11/12) × 100 × Harga Jual Eceran ÷ (100 + (11/12) × t) |
Nilai Lain dihitung untuk penyerahan LPG tertentu; dasar penghitungan untuk PPN yang terutang |
Dokumen internal perusahaan perhitungan PPN LPG |
| 46 |
Pasal 8 Amandemen Pasal 5 ayat (1a) |
Gunakan tarif PPN (t) yang berlaku dalam perhitungan Nilai Lain |
t adalah angka pada tarif PPN yang berlaku saat perhitungan |
Dokumen internal perusahaan terkait tarif PPN |
| 47 |
Pasal 8 Amandemen Pasal 5 ayat (1b) |
Bulatkan Nilai Lain menjadi 0,825 × Harga Jual Eceran |
Nilai Lain dibulatkan untuk memudahkan penghitungan pajak |
Dokumen internal perusahaan perhitungan PPN LPG |
| 48 |
Pasal 8 Amandemen Pasal 5 ayat (2) |
Gunakan Lampiran sebagai contoh penghitungan PPN atas LPG tertentu |
Lampiran merupakan bagian tidak terpisahkan dari PMK dan dijadikan acuan |
Lampiran PMK dan dokumen perusahaan |
| 49 |
Pasal 6 |
Lakukan perhitungan dan pemungutan PPN atas penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak, termasuk penyerahan Pulsa, Kartu Perdana, Token, dan Voucer, menggunakan Nilai Lain sebesar 11/12 dari nilai pembayaran, serta pungut PPN hanya sekali pada saat penyerahan pertama. Hapus ketentuan Pasal 13 ayat (6) yang lama. |
Seluruh ketentuan lama terkait pemungutan PPN diubah untuk menyesuaikan perhitungan dengan Nilai Lain dan tarif PPN yang berlaku; pemungutan dilakukan sekali pada penyerahan pertama; ketentuan ayat (6) dihapus. |
Dokumen internal tagihan, faktur pajak, SOP internal |
| 50 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (1) |
Pastikan pengenaan PPN atau PPN dan PPnBM atas penyerahan Bahan Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak oleh anggota kepada KSO dan KSO kepada pelanggan |
Perusahaan wajib memastikan setiap transaksi internal dan eksternal dalam KSO tercatat dan dikenakan pajak sesuai ketentuan |
Peraturan terkait PPN/PPnBM, dokumen transaksi KSO |
| 51 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (2) |
Tetapkan saat terutangnya PPN atau PPN dan PPnBM pada saat penyerahan Bahan Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak oleh KSO kepada pelanggan |
Pencatatan pajak harus sesuai dengan momen penyerahan agar kewajiban pajak tepat waktu |
Dokumen faktur, bukti serah terima |
| 52 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (3) |
Gunakan nilai lain sebesar 11/12 dari nilai kontribusi yang disepakati oleh tiap anggota untuk dasar pengenaan PPN atas penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak oleh Anggota kepada KSO |
Nilai kontribusi tiap anggota harus tercatat dalam perjanjian kerja sama atau dokumen kesepakatan |
Perjanjian KSO, dokumen kesepakatan internal |
| 53 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (4) |
Rinci besarnya nilai kontribusi per jenis Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak yang diserahkan oleh Anggota |
Perusahaan wajib mengklasifikasikan dan mendokumentasikan nilai kontribusi tiap jenis Bahan/Jasa untuk perhitungan PPN |
Dokumen internal KSO |
| 54 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (5) |
Gunakan dasar pengenaan pajak sesuai ketentuan perpajakan atas penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak oleh KSO kepada Pelanggan |
KSO wajib memastikan PPN dihitung berdasarkan ketentuan PPN/PPnBM yang berlaku pada transaksi dengan pelanggan |
Faktur penjualan, peraturan perpajakan |
| 55 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (6) |
Buat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan oleh KSO kepada Pelanggan sesuai ketentuan perpajakan |
Faktur Pajak menjadi bukti pungutan PPN yang sah dan harus diserahkan ke pelanggan |
Faktur Pajak, dokumen transaksi |
| 56 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (7) |
Buat Faktur Pajak paling lambat saat KSO membuat Faktur Pajak atas penyerahan kepada Pelanggan |
Anggota yang merupakan Pengusaha Kena Pajak wajib menerbitkan Faktur Pajak untuk transaksi dengan KSO agar sinkron dengan Faktur Pajak yang diterbitkan KSO kepada Pelanggan |
Faktur Pajak internal, dokumen transaksi KSO |
| 57 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (8) |
Kreditkan pajak masukan atas perolehan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak, impor Bahan, atau pemanfaatan Barang/Jasa dari luar daerah pabean sesuai ketentuan |
Anggota dan KSO dapat mengkreditkan PPN masukan sepanjang memenuhi syarat pengkreditan pajak masukan sesuai peraturan perpajakan |
Faktur Pajak masukan, dokumen impor, dokumen pemanfaatan |
| 58 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (9) |
Kenakan PPnBM 1 kali saat penyerahan Barang Kena Pajak mewah dari KSO ke Pelanggan |
Barang Kena Pajak yang tergolong mewah dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah satu kali pada saat diserahkan oleh KSO |
Dokumen Faktur Pajak, daftar Barang Kena Pajak mewah |
| 59 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (10) |
Setor dan laporkan PPN atau PPN + PPnBM yang terutang |
KSO dan tiap Anggota wajib melakukan penyetoran dan pelaporan pajak sesuai ketentuan peraturan perpajakan |
Bukti setor pajak, laporan SPT Masa PPN |
| 60 |
Pasal 11 Amandemen Pasal 6 ayat (11) |
Gunakan contoh perlakuan PPN/PPnBM untuk KSO sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf B |
Lampiran huruf B berisi contoh penghitungan dan perlakuan pajak yang menjadi pedoman KSO dalam penerapan PPN/PPnBM |
Lampiran huruf B Peraturan Menteri |
| 61 |
Pasal 7 |
Sesuaikan tata cara pembayaran, pelunasan, dan pengadministrasian Pajak Pertambahan Nilai serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari atau ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas sesuai ketentuan terbaru. |
Mengatur prosedur pelaporan, pembayaran, dan pencatatan PPN dan PPnBM atas transaksi lintas kawasan bebas atau pelabuhan bebas agar sesuai peraturan terbaru. |
Dokumen internal transaksi dan bukti pembayaran pajak |
| 62 |
Pasal 8 |
Sesuaikan ketentuan ayat (1) dan ayat (2) Pasal 5, serta sisipkan ayat (1a) dan (1b) untuk penyerahan Liquefied Petroleum Gas tertentu |
Ketentuan Pasal 5 diubah dengan tambahan dua ayat baru untuk mengatur PPN atas penyerahan LPG tertentu sesuai PMK terbaru |
Dokumen internal perusahaan terkait penyerahan LPG |
| 63 |
Pasal 9 |
Pastikan mematuhi perubahan ketentuan ayat (1) dan ayat (2) huruf b Pasal 4, sisipkan ayat (1a), dan hapus ayat (2) huruf a Pasal 4 |
Penyesuaian penghitungan PPN atas penyerahan hasil tembakau sesuai PMK terbaru; ayat baru (1a) menjadi tambahan ketentuan, sementara ayat lama dihapus |
Dokumen internal perusahaan terkait penyerahan tembakau |
| 64 |
Pasal 10 |
Sesuaikan perhitungan dan pemungutan PPN atas penyerahan pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian sesuai ketentuan Pasal 10, termasuk perubahan ayat (3), ayat (4), serta penyisipan ayat (3a), (4a), dan (5a) |
Perusahaan wajib menyesuaikan seluruh mekanisme penghitungan dan pemungutan PPN untuk pupuk bersubsidi berdasarkan formula dan aturan terbaru dalam pasal yang diubah |
Dokumen internal perhitungan PPN pupuk, SOP pemungutan PPN |
| 65 |
Pasal 11 |
Terapkan ketentuan PMK No. 79 Tahun 2024 dalam Kerja Sama Operasi sesuai Perubahan ayat 3 Pasal 6 |
Perusahaan wajib menyesuaikan penghitungan, pencatatan, dan pelaporan PPN atau PPh dalam Kerja Sama Operasi sesuai ketentuan terbaru |
PMK No. 79 Tahun 2024, dokumen Kerja Sama Operasi |
| 66 |
Pasal 12 |
Gunakan contoh penghitungan PPN berbasis Nilai Lain dari Lampiran huruf A |
Contoh penghitungan PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak berupa Nilai Lain disesuaikan dengan ketentuan peraturan ini, tercantum di Lampiran huruf A |
Lampiran huruf A Peraturan Menteri |
| 67 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (1) |
Hitung dan pungut PPN atas penyerahan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak sesuai tarif yang berlaku. |
PPN yang terutang dihitung dengan mengalikan tarif PPN yang berlaku dengan Dasar Pengenaan Pajak yang sesuai ketentuan perpajakan. Berlaku untuk semua Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak yang diserahkan. |
Dokumen internal tagihan, faktur pajak |
| 68 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (2) |
Gunakan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain (11/12 dari tagihan) untuk penyerahan Pulsa dan Kartu Perdana oleh penyelenggara jasa telekomunikasi atau distribusi. |
Untuk penyerahan Pulsa dan Kartu Perdana, Dasar Pengenaan Pajak tidak sama dengan harga jual biasa, melainkan dihitung 11/12 dari nilai pembayaran yang ditagih. Berlaku untuk Pengusaha Penyelenggara Jasa Telekomunikasi atau Penyedia Distribusi Tingkat Pertama. |
Faktur penjualan Pulsa/Kartu Perdana, laporan internal |
| 69 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (3) huruf a |
Gunakan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain (11/12 dari tagihan) untuk penyerahan Pulsa dan Kartu Perdana oleh Penyelenggara Distribusi Tingkat Kedua kepada pelanggan melalui Penyelenggara Distribusi Tingkat Selanjutnya. |
Nilai PPN dihitung 11/12 dari nilai yang ditagih Penyelenggara Distribusi Tingkat Kedua kepada Penyelenggara Distribusi Tingkat Selanjutnya. Berlaku untuk distribusi berjenjang antar penyelenggara. |
Dokumen tagihan internal distribusi, faktur pajak |
| 70 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (3) huruf b |
Gunakan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain (11/12 dari Harga Jual) untuk penyerahan Pulsa dan Kartu Perdana oleh Penyelenggara Distribusi Tingkat Kedua kepada pelanggan secara langsung. |
Nilai PPN dihitung 11/12 dari Harga Jual untuk pelanggan langsung, sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. |
Dokumen penjualan langsung, faktur pajak |
| 71 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (4) huruf a |
Gunakan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain (11/12) atas komisi atau pendapatan administrasi dari penyerahan Jasa Kena Pajak berupa Jasa penyelenggaraan layanan transaksi pembayaran distribusi Token. |
PPN dihitung 11/12 dari komisi atau pendapatan administrasi yang diterima, tidak termasuk pajak daerah atau bea meterai. Berlaku untuk seluruh transaksi distribusi Token. |
Dokumen transaksi internal, laporan keuangan, faktur pajak |
| 72 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (4) huruf b |
Gunakan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain (11/12) atas selisih antara nilai nominal Token dan nilai yang diminta dari penyerahan Jasa Kena Pajak berupa Jasa penyelenggaraan layanan transaksi pembayaran distribusi Token. |
PPN dihitung 11/12 dari selisih antara nilai nominal Token dan nilai yang diminta pelanggan, tidak termasuk pajak daerah atau bea meterai. Berlaku untuk transaksi penjualan Token secara langsung. |
Dokumen penjualan Token, laporan keuangan, faktur pajak |
| 73 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (5) huruf a angka 1 |
Gunakan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain (11/12) atas komisi atau imbalan yang diterima untuk penyerahan Jasa Kena Pajak berupa Jasa pemasaran dengan media Voucer, jasa layanan distribusi Voucer, atau program loyalitas pelanggan, jika penyerahannya didasari pemberian komisi/imbalan. |
PPN dihitung 11/12 dari komisi atau imbalan yang diterima, sesuai dengan transaksi yang didasari pemberian komisi atau imbalan. |
Dokumen internal, laporan keuangan, faktur pajak |
| 74 |
Pasal 6 Amandemen Pasal 13 ayat (5) huruf a angka 2 |
Gunakan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain (11/12) atas selisih antara nilai yang ditagih dan nilai yang dibayar untuk penyerahan Jasa Kena Pajak berupa Jasa pemasaran dengan media Voucer, jasa layanan distribusi Voucer, atau program loyalitas pelanggan, jika penyerahannya tidak didasari pemberian komisi/imbalan. |
PPN dihitung 11/12 dari selisih nilai yang ditagih dan nilai yang dibayar pelanggan, berlaku untuk transaksi yang tidak didasari pemberian komisi atau imbalan. |
Dokumen penjualan Voucer, laporan keuangan, faktur pajak |
| 75 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (1) |
Hitung PPN atau PPN dan PPnBM atas penyerahan Barang Kena Pajak berwujud dengan mengalikan tarif PPN/PPnBM dengan Dasar Pengenaan Pajak. |
Menetapkan mekanisme penghitungan pajak untuk Barang Kena Pajak berwujud sesuai ketentuan terbaru. |
Dokumen internal transaksi, bukti pembayaran pajak |
| 76 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (2) |
Pastikan PPN yang terutang dapat dipungut dan disetor sesuai besaran tertentu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. |
Menetapkan prosedur pemungutan dan penyetoran PPN atas Barang Kena Pajak berwujud. |
Bukti setor PPN, laporan pajak perusahaan |
| 77 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (3) huruf a |
Hitung Dasar Pengenaan Pajak atas Barang Kena Pajak berwujud dari luar Daerah Pabean yang tergolong mewah dengan nilai berupa uang dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan kepabeanan dan cukai, tidak termasuk PPN/PPnBM. |
Menetapkan dasar pengenaan pajak untuk BKP berwujud mewah yang tidak diolah di KPBPB. |
Dokumen impor, faktur, bukti pembayaran bea masuk dan cukai |
| 78 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (3) huruf b |
Hitung Dasar Pengenaan Pajak atas Barang Kena Pajak berwujud dari luar Daerah Pabean yang bukan tergolong mewah dengan 11/12 dari nilai berupa uang dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan kepabeanan dan cukai, tidak termasuk PPN/PPnBM. |
Menetapkan dasar pengenaan pajak untuk BKP berwujud non-mewah yang tidak diolah di KPBPB. |
Dokumen impor, faktur, bukti pembayaran bea masuk dan cukai |
| 79 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (4) huruf a |
Hitung Dasar Pengenaan Pajak atas BKP berwujud dari TLDDP, TPB, atau KEK yang tidak diolah di KPBPB menggunakan harga jual. |
Menentukan dasar pengenaan pajak untuk BKP dari kawasan khusus tanpa pengolahan. |
Dokumen distribusi, faktur, dokumen KPBPB |
| 80 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (4) huruf b |
Hitung Dasar Pengenaan Pajak atas BKP berwujud dari TLDDP, TPB, atau KEK yang tidak diolah di KPBPB menggunakan nilai lain sesuai ketentuan perpajakan. |
Alternatif penghitungan pajak menggunakan nilai lain sesuai regulasi pajak. |
Dokumen distribusi, faktur, bukti pembayaran pajak |
| 81 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (5) huruf a |
Hitung Dasar Pengenaan Pajak atas BKP berwujud hasil produksi di KPBPB menggunakan harga jual. |
Menentukan dasar pengenaan pajak untuk BKP hasil produksi KPBPB. |
Dokumen produksi, faktur penjualan, dokumen KPBPB |
| 82 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (5) huruf b |
Hitung Dasar Pengenaan Pajak atas BKP berwujud hasil produksi di KPBPB menggunakan nilai lain sesuai ketentuan perpajakan. |
Alternatif penghitungan pajak menggunakan nilai lain sesuai regulasi pajak. |
Dokumen produksi, faktur, bukti pembayaran pajak |
| 83 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (6) |
Tetapkan PPN atau PPN dan PPnBM saat BKP berwujud dikeluarkan dari KPBPB |
Menentukan saat terutang pajak untuk BKP berwujud, yaitu saat dikeluarkan dari Kawasan Berikat |
Dokumen keluaran BKP, surat jalan, laporan internal |
| 84 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (7) |
Sertakan penyerahan BKP berwujud hasil tembakau dalam perhitungan pajak |
Menegaskan bahwa BKP tembakau yang berwujud wajib dikenai pajak |
Dokumen produksi tembakau, faktur penjualan |
| 85 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (8) |
Lakukan pemungutan PPN atau PPN dan PPnBM oleh Pengusaha di KPBPB saat menyerahkan BKP berwujud ke pembeli |
Menetapkan pihak yang wajib memungut pajak atas penyerahan BKP berwujud |
Faktur pajak, bukti setoran pajak, dokumen penyerahan |
| 86 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 15 ayat (9) |
Serahkan BKP berwujud yang dipungut PPN/PPnBM kepada pemungut PPN sesuai ketentuan |
Menjelaskan kewajiban pemungut PPN atas penyerahan BKP berwujud dari KPBPB ke pemungut pajak |
Faktur pajak, dokumen internal, bukti pembayaran |
| 87 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (1) |
Tetapkan bahwa pengeluaran BKP berwujud yang tidak dikembalikan ke KPBPB dalam jangka waktu tertentu dianggap sebagai penyerahan BKP berwujud dan dikenai PPN/PPnBM |
Menegaskan momen terutang pajak atas BKP berwujud yang tidak dikembalikan ke KPBPB |
Dokumen keluar masuk BKP, laporan internal |
| 88 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (2) huruf a |
Tetapkan Dasar Pengenaan Pajak berupa harga pasar wajar jika BKP tergolong mewah |
Menentukan dasar perhitungan PPN/PPnBM untuk BKP mewah |
Dokumen penilaian harga pasar BKP, laporan internal |
| 89 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (2) huruf b |
Tetapkan Dasar Pengenaan Pajak sebesar 11/12 dari harga pasar wajar jika BKP bukan tergolong mewah |
Menentukan dasar perhitungan PPN/PPnBM untuk BKP non-mewah |
Dokumen penilaian harga pasar BKP, laporan internal |
| 90 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (3) |
Lakukan pemungutan PPN/PPnBM oleh Pengusaha di KPBPB atas BKP berwujud yang diserahkan |
Menegaskan pihak yang wajib memungut pajak untuk BKP berwujud yang keluar dari KPBPB |
Dokumen pengeluaran BKP, laporan pemungutan pajak |
| 91 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (4) |
Kecualikan pemungutan PPN/PPnBM untuk BKP berwujud yang memperoleh fasilitas PPN tidak dipungut atau dibebaskan |
Menetapkan pengecualian pemungutan pajak sesuai fasilitas yang diberikan |
Surat keterangan fasilitas PPN, dokumen internal |
| 92 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (5) |
Setorkan PPN/PPnBM atas BKP berwujud Pasal 18 ayat (2) huruf a melalui bank/pos persepsi menggunakan kode billing dari DJBC |
Menetapkan mekanisme penyetoran pajak untuk BKP berwujud jenis huruf a dengan kode billing resmi |
Bukti setor bank/pos, laporan pajak |
| 93 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (6) |
Setorkan PPN/PPnBM atas BKP berwujud Pasal 18 ayat (2) huruf b & c melalui kantor pos, bank persepsi, atau lembaga persepsi lain dengan SSP berkode billing DJP |
Menetapkan mekanisme penyetoran pajak untuk BKP berwujud jenis huruf b & c dengan SSP dan kode billing resmi |
SSP, bukti setor, laporan pajak |
| 94 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (7) |
Buat kode billing melalui sistem DJP oleh Pengusaha di KPBPB dengan mengakses sistem SINSW terhubung ke DJP |
Menjelaskan prosedur pembuatan kode billing untuk penyetoran PPN/PPnBM secara elektronik |
Screenshot sistem SINSW, dokumen internal |
| 95 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (8) huruf a |
Isi kolom nama dan NPWP dengan nama dan NPWP Pengusaha di KPBPB yang menyerahkan BKP berwujud |
Setiap kode billing atau SSP harus mencantumkan identitas Pengusaha secara benar |
Dokumen SSP/kode billing perusahaan |
| 96 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (8) huruf b |
Gunakan kode akun pajak 411211 dan kode jenis setoran 122 untuk SSP, atau kode akun 411211 untuk kode billing |
Menentukan kode akun dan jenis setoran sesuai metode pembayaran |
Bukti kode billing/SSP |
| 97 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 19 ayat (8) huruf c |
Isi kolom Wajib Pajak atau penyetor dengan nama dan NPWP Pengusaha di KPBPB |
Menjamin validitas dan keterkaitan pembayaran dengan Pengusaha yang menyerahkan BKP |
Dokumen SSP/kode billing |
| 98 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (1) |
Pastikan pengakuan perolehan BKP berwujud dari TLDDP sebagai objek PPN/PPnBM jika tidak dikeluarkan kembali dari KPBPB sesuai batas waktu |
Jika sampai batas waktu BKP berwujud tidak dikembalikan ke KPBPB, maka pengusaha harus mencatat pemasukan BKP sebagai perolehan yang dikenai pajak |
Dokumen perusahaan terkait penerimaan BKP dari TLDDP |
| 99 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (2) huruf a |
Tetapkan dasar pengenaan pajak menggunakan harga pasar wajar jika BKP berwujud tergolong mewah |
Untuk BKP berwujud yang tergolong mewah, dasar PPN/PPnBM adalah harga pasar wajar |
Dokumen perusahaan terkait nilai BKP mewah |
| 100 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (2) huruf b |
Tetapkan dasar pengenaan pajak sebesar 11/12 dari harga pasar wajar jika BKP berwujud bukan mewah |
Untuk BKP berwujud yang bukan tergolong mewah, dasar PPN/PPnBM dihitung 11/12 dari harga pasar wajar |
Dokumen perusahaan terkait nilai BKP non-mewah |
| 101 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (3) |
Setorkan PPN/PPnBM melalui kantor pos, bank persepsi, atau lembaga persepsi lain yang ditunjuk, menggunakan SSP dengan kode billing |
Pengusaha di KPBPB yang memperoleh BKP wajib menyetor PPN/PPnBM sesuai mekanisme yang ditentukan |
Dokumen perusahaan terkait setoran PPN/PPnBM |
| 102 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (4) |
Buat kode billing melalui sistem billing Direktorat Jenderal Pajak |
Pengusaha di KPBPB membuat kode billing dengan mengakses SINSW yang terhubung dengan sistem DJP |
Dokumen internal penggunaan sistem SINSW |
| 103 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (5) |
Pastikan pengecualian PPN/PPnBM diterapkan untuk BKP berwujud yang mendapatkan fasilitas tidak dipungut atau dibebaskan |
Penyerahan BKP berwujud yang mendapatkan fasilitas PPN/PPnBM tidak dikenai pajak sesuai ketentuan |
Dokumen perusahaan terkait fasilitas PPN/PPnBM |
| 104 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (6) huruf a |
Isi kolom nama dan NPWP dengan data Pengusaha di KPBPB yang memperoleh BKP |
Nama dan NPWP Pengusaha di KPBPB harus tercantum di SSP |
Dokumen perusahaan terkait SSP |
| 105 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (6) huruf b |
Pakailah kode akun pajak 411211 |
Kode akun pajak wajib diisi dengan 411211 sesuai ketentuan |
Dokumen internal pengisian SSP |
| 106 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (6) huruf c |
Pakailah kode jenis setoran 122 |
Kode jenis setoran pada SSP wajib diisi 122 |
Dokumen internal pengisian SSP |
| 107 |
Pasal 7 Amandemen Pasal 20 ayat (6) huruf d |
Isi kolom Wajib Pajak/penyetor dengan nama dan NPWP Pengusaha di KPBPB |
Data wajib pajak yang menyetor harus sesuai dengan SSP |
Dokumen internal pengisian SSP |