| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 2 huruf a | Ketahui dan pahami bahwa Peraturan Menteri ini mengatur daftar Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal | Amdal diperlukan bagi kegiatan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan | Dokumen Amdal |
| 2 | Pasal 2 huruf b | Ketahui dan pahami bahwa Peraturan Menteri ini mengatur daftar Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki UKL-UPL | UKL-UPL berlaku untuk kegiatan dengan dampak kecil–menengah terhadap lingkungan | Dokumen UKL-UPL |
| 3 | Pasal 2 huruf c | Ketahui dan pahami bahwa Peraturan Menteri ini mengatur daftar Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki SPPL | SPPL merupakan surat pernyataan untuk usaha/kegiatan dengan dampak lingkungan kecil | Dokumen SPPL |
| 4 | Pasal 2 huruf d | Ketahui dan pahami bahwa Peraturan Menteri ini mengatur penambahan atau pengurangan daftar Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal, UKL-UPL, atau SPPL | Daftar kewajiban bisa berubah sesuai kebijakan pemerintah dan regulasi terbaru | SK Menteri / Lampiran terbaru |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 3 ayat (1) | Pastikan setiap rencana usaha/kegiatan dengan dampak penting terhadap lingkungan memiliki Amdal | Amdal wajib dimiliki untuk usaha/kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting | Dokumen Amdal, izin lingkungan |
| 2 | Pasal 3 ayat (2) huruf a | Identifikasi rencana usaha/kegiatan yang mengubah bentuk lahan dan bentang alam untuk memastikan kewajiban Amdal | Setiap perubahan besar pada lahan/bentang alam wajib dilakukan analisis dampak sesuai kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting | Kajian teknis perubahan lahan |
| 3 | Pasal 3 ayat (2) huruf b | Identifikasi eksploitasi sumber daya alam (terbarukan/tidak terbarukan) yang wajib memiliki Amdal | Sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting, eksploitasi bisa menimbulkan kerusakan ekosistem jika tidak diawasi | Dokumen eksploitasi SDA, perizinan |
| 4 | Pasal 3 ayat (2) huruf c | Evaluasi proses/kegiatan yang berpotensi menimbulkan pencemaran, kerusakan, atau pemborosan SDA | Kegiatan dengan potensi pencemaran wajib dianalisis melalui Amdal, sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting | Data emisi, limbah, laporan teknis |
| 5 | Pasal 3 ayat (2) huruf d | Analisis kegiatan/proses yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, buatan, sosial, dan budaya | Kegiatan yang memengaruhi masyarakat atau budaya lokal perlu kajian sosial-lingkungan, sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting | Studi sosial budaya, AMDAL Sosial |
| 6 | Pasal 3 ayat (2) huruf e | Pertimbangkan kegiatan yang memengaruhi kawasan konservasi atau cagar budaya sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting | Kegiatan dekat konservasi/cagar budaya wajib ada kajian khusus | Peta lokasi konservasi, dokumen izin |
| 7 | Pasal 3 ayat (2) huruf f | Periksa introduksi jenis tumbuhan, hewan, atau jasad renik yang memerlukan Amdal, sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting | Introduksi dapat merusak ekosistem jika tidak dikendalikan | Dokumen riset, izin introduksi |
| 8 | Pasal 3 ayat (2) huruf g | Awasi pembuatan/penggunaan bahan hayati dan nonhayati yang berdampak lingkungan | Sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting, bahan berbahaya dapat mencemari lingkungan jika tidak dikelola | MSDS, catatan penggunaan bahan |
| 9 | Pasal 3 ayat (2) huruf h | Identifikasi kegiatan berisiko tinggi atau yang memengaruhi pertahanan negara | Risiko tinggi wajib ada Amdal plus izin khusus sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting | Kajian risiko, izin tambahan |
| 10 | Pasal 3 ayat (2) huruf i | Periksa penerapan teknologi baru yang berpotensi besar memengaruhi lingkungan hidup | Teknologi baru bisa menimbulkan dampak tak terduga, wajib kajian Amdal sesuai dengan kriteria usaha atau kegiatan yang berdampak penting | Dokumen uji teknologi, Amdal |
| 11 | Pasal 3 ayat (3) huruf a | Pastikan jenis rencana usaha/kegiatan yang besaran/skalanya wajib memiliki Amdal | Usaha/kegiatan dengan skala besar harus dianalisis dampak lingkungannya | Dokumen AMDAL, persetujuan lingkungan |
| 12 | Pasal 3 ayat (3) huruf b | Pastikan jenis rencana usaha/kegiatan yang lokasinya berada di dalam atau berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib memiliki Amdal | Usaha/kegiatan di kawasan sensitif (kawasan lindung) memerlukan kajian khusus untuk mencegah kerusakan ekosistem | Dokumen AMDAL, peta lokasi, izin lingkungan |
| 13 | Pasal 3 ayat (4) | Susun dan pastikan jenis rencana usaha/kegiatan yang besaran/skalanya wajib memiliki Amdal tercantum dalam daftar Lampiran I dan Lampiran II | Lampiran I & II menjadi referensi resmi untuk menentukan usaha/kegiatan yang wajib Amdal; merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri | Lampiran I & II Peraturan Menteri, dokumen AMDAL perusahaan |
| 14 | Pasal 3 ayat (5) huruf a | Pastikan rencana usaha/kegiatan yang berbatasan langsung dengan kawasan lindung meliputi yang tapak proyeknya bersinggungan langsung dengan batas kawasan lindung | Usaha/kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kawasan lindung wajib dianalisis dampak lingkungannya | Dokumen AMDAL, peta lokasi proyek |
| 15 | Pasal 3 ayat (5) huruf b | Pastikan rencana usaha/kegiatan yang berbatasan langsung dengan kawasan lindung dianalisis jika berdasarkan pertimbangan ilmiah memiliki potensi dampak terhadap fungsi kawasan lindung | Kegiatan yang meskipun tidak bersinggungan langsung tetap wajib dianalisis bila berpotensi mengganggu ekosistem kawasan lindung | Kajian ilmiah, dokumen AMDAL |
| 16 | Pasal 3 ayat (6) | Ketahui dan pahami bahwa kawasan lindung sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup | Menegaskan definisi dan pengelolaan kawasan lindung mengacu pada regulasi resmi, termasuk zonasi, batas, dan perlindungan | Peraturan KLHK, peta kawasan lindung |
| 17 | Pasal 4 ayat (1) | Kelompokkan daftar usaha/kegiatan yang wajib memiliki Amdal berdasarkan KBLI dan/atau non-KBLI | Pengelompokan ini mempermudah identifikasi kewajiban Amdal menurut jenis usaha dan klasifikasi industri | Lampiran I & II Peraturan Menteri, dokumen internal perusahaan |
| 18 | Pasal 4 ayat (2) | Terapkan pengelompokan daftar usaha/kegiatan yang wajib Amdal baik untuk pelaku usaha maupun instansi pemerintah | Semua kegiatan usaha, baik swasta maupun pemerintah, mengikuti pengelompokan agar konsisten dengan regulasi | Dokumen internal perusahaan, izin lingkungan |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 5 ayat (1) | Pastikan Usaha/Kegiatan yang tidak memiliki Dampak Penting terhadap lingkungan wajib memiliki UKL-UPL | UKL-UPL diperlukan bagi kegiatan dengan dampak kecil hingga menengah untuk memastikan pengelolaan lingkungan yang tepat | Dokumen UKL-UPL, izin lingkungan |
| 2 | Pasal 5 ayat (2) | Kelompokkan Usaha/Kegiatan yang wajib UKL-UPL berdasarkan KBLI dan/atau non-KBLI | Pengelompokan mempermudah identifikasi dan pengawasan kewajiban UKL-UPL | Lampiran I & II, dokumen internal |
| 3 | Pasal 5 ayat (3) | Terapkan pengelompokan daftar UKL-UPL untuk semua rencana Usaha/Kegiatan, baik oleh pelaku usaha maupun instansi pemerintah | Semua pihak wajib mengikuti pengelompokan agar konsisten dengan regulasi | Dokumen internal, izin lingkungan |
| 4 | Pasal 5 ayat (4) | Susun daftar Usaha/Kegiatan yang wajib memiliki UKL-UPL dalam Lampiran I & II sebagai bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri | Lampiran I & II menjadi acuan resmi bagi perusahaan dan instansi dalam menentukan kewajiban UKL-UPL | Lampiran I & II Peraturan Menteri, dokumen internal |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 6 ayat (1) | Pastikan Usaha/Kegiatan yang tidak memiliki Dampak Penting dan tidak termasuk yang wajib UKL-UPL wajib memiliki SPPL | SPPL diperlukan bagi kegiatan dengan dampak minimal untuk memastikan pengelolaan lingkungan tetap sesuai ketentuan | Dokumen SPPL, izin lingkungan |
| 2 | Pasal 6 ayat (2) | Kelompokkan Usaha/Kegiatan yang wajib SPPL berdasarkan KBLI dan/atau non-KBLI | Pengelompokan mempermudah identifikasi dan pengawasan kewajiban SPPL | Lampiran I & II, dokumen internal |
| 3 | Pasal 6 ayat (3) | Terapkan pengelompokan daftar SPPL untuk semua rencana Usaha/Kegiatan, baik oleh pelaku usaha maupun instansi pemerintah | Semua pihak wajib mengikuti pengelompokan agar konsisten dengan regulasi | Dokumen internal, izin lingkungan |
| 4 | Pasal 6 ayat (4) | Susunlah daftar Usaha/Kegiatan yang wajib memiliki SPPL dalam Lampiran I & II sebagai bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri | Lampiran I & II menjadi acuan resmi bagi perusahaan dan instansi dalam menentukan kewajiban SPPL | Lampiran I & II Peraturan Menteri, dokumen internal |
| 5 | Pasal 7 ayat (1) huruf a | Pastikan daftar Usaha/Kegiatan yang wajib Amdal, UKL-UPL, dan SPPL berlaku untuk usaha/kegiatan yang memerlukan sarana dan prasarana | Menetapkan kewajiban dokumen lingkungan bagi perusahaan manufaktur yang memiliki sarana dan prasarana produksi | Lampiran I & II, dokumen AMDAL/UKL-UPL/SPPL |
| 6 | Pasal 7 ayat (1) huruf b | Pastikan daftar Usaha/Kegiatan yang wajib Amdal, UKL-UPL, dan SPPL berlaku untuk usaha jasa yang memerlukan sarana dan prasarana | Menegaskan kewajiban dokumen lingkungan untuk usaha jasa yang terkait fasilitas manufaktur atau pendukung produksi | Lampiran II, dokumen AMDAL/UKL-UPL/SPPL |
| 7 | Pasal 7 ayat (2) | Tentukan wajib Amdal, UKL-UPL, dan SPPL untuk Usaha/Kegiatan yang memerlukan sarana dan prasarana sesuai Lampiran I & II | Lampiran I & II menjadi acuan resmi untuk memastikan kewajiban dokumen lingkungan terpenuhi | Lampiran I & II Peraturan Menteri, dokumen internal |
| 8 | Pasal 7 ayat (3) | Tentukan wajib Amdal, UKL-UPL, dan SPPL untuk usaha jasa yang memerlukan sarana dan prasarana sesuai Lampiran II | Lampiran II menjadi acuan resmi untuk usaha jasa yang berhubungan dengan sarana/prasarana manufaktur | Lampiran II Peraturan Menteri, dokumen internal |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 8 huruf a | Lakukan penyesuaian jenis usaha/kegiatan dalam daftar sesuai perubahan dampak lingkungan, termasuk dari wajib Amdal menjadi UKL-UPL atau SPPL | Menekankan fleksibilitas kewajiban dokumen lingkungan sesuai evaluasi dampak terbaru | Lampiran I & II Peraturan Menteri, dokumen AMDAL/UKL-UPL/SPPL |
| 2 | Pasal 8 huruf b | Lakukan penyesuaian dari wajib UKL-UPL menjadi wajib Amdal atau SPPL bila skala/kriteria dampak berubah | Menyesuaikan dokumen lingkungan saat dampak kegiatan meningkat | Lampiran I & II, dokumen UKL-UPL/AMDAL/SPPL |
| 3 | Pasal 8 huruf c angka 1 | Lakukan perubahan jenis usaha/kegiatan dari wajib SPPL menjadi wajib Amdal bila diperlukan | Menegaskan kewajiban dokumen lingkungan untuk kegiatan dengan dampak meningkat | Lampiran I & II, dokumen SPPL/AMDAL |
| 4 | Pasal 8 huruf c angka 2 | Lakukan perubahan jenis usaha/kegiatan dari wajib SPPL menjadi wajib UKL-UPL bila diperlukan | Menyesuaikan dokumen lingkungan bila dampak meningkat sedang | Lampiran I & II, dokumen SPPL/UKL-UPL |
| 5 | Pasal 8 huruf d | Tambahkan jenis usaha/kegiatan baru yang belum tercantum dalam daftar tetapi wajib Amdal, UKL-UPL, atau SPPL | Menjamin semua kegiatan baru tetap mematuhi kewajiban dokumen lingkungan | Lampiran I & II Peraturan Menteri, dokumen internal |
| 6 | Pasal 9 ayat (1) | Ajukan perubahan daftar usaha/kegiatan secara tertulis kepada Menteri | Semua perubahan wajib diajukan resmi agar dapat diproses | Surat permohonan resmi, dokumen internal |
| 7 | Pasal 9 ayat (1) huruf a | Ajukan perubahan melalui menteri dan/atau kepala lembaga pemerintah nonkementerian | Untuk kegiatan yang berada di bawah koordinasi kementerian/lembaga | Surat permohonan resmi |
| 8 | Pasal 9 ayat (1) huruf b | Ajukan perubahan melalui gubernur | Untuk kegiatan yang menjadi kewenangan provinsi | Surat permohonan resmi |
| 9 | Pasal 9 ayat (1) huruf c | Ajukan perubahan melalui bupati/wali kota | Untuk kegiatan di tingkat kabupaten/kota | Surat permohonan resmi |
| 10 | Pasal 9 ayat (1) huruf d | Ajukan perubahan melalui masyarakat | Memberikan kesempatan partisipasi publik dalam perubahan daftar | Surat pengajuan masyarakat, dokumentasi |
| 11 | Pasal 9 ayat (2) | Evaluasi perubahan dilakukan Menteri dengan melibatkan menteri/pimpinan lembaga terkait | Untuk menilai kelayakan perubahan daftar usaha/kegiatan | Berita acara evaluasi, laporan resmi |
| 12 | Pasal 9 ayat (3) | Laksanakan tata cara perubahan dan penetapan daftar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup | Menjamin prosedur resmi dan kepatuhan hukum dalam perubahan daftar | Dokumen internal, regulasi KLHK |
| No | Pasal | Pokok Ketentuan | Penjelasan | Bukti/Referensi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pasal 10 | Lanjutkan proses permohonan penerbitan izin lingkungan dan pengesahan SPPL yang sedang berproses sampai diterbitkan Persetujuan Lingkungan dan pengesahan SPPL | Menjamin kesinambungan proses izin dan dokumen lingkungan saat Peraturan Menteri mulai berlaku | Dokumen permohonan, Persetujuan Lingkungan, SPPL |
| 2 | Pasal 11 | Hentikan penggunaan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor P.38/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2019 terkait Rencana Usaha/Kegiatan Wajib Memiliki AMDAL | Menegaskan bahwa peraturan lama tidak berlaku lagi sehingga perusahaan harus menyesuaikan dokumen dengan regulasi baru | Salinan Peraturan Menteri dicabut, dokumen internal |
| 3 | Pasal 12 | Patuhi Peraturan Menteri ini sejak tanggal diundangkan | Menandai berlaku efektifnya seluruh ketentuan baru bagi perusahaan dan instansi | Peraturan Menteri terbaru |